Dominus Vobiscum

Tampilkan postingan dengan label Misa Kudus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Misa Kudus. Tampilkan semua postingan

Rangkaian dari tulisan ini merupakan opini pribadi dari penulis sehingga bukan merupakan suatu tanggapan resmi tentang Gereja Katolik beserta segala materi yang terkait di dalamnya. Oleh karena itu, tulisan ini sebaiknya dianggap sebagai masukan dan saran. Apabila para pembaca menemukan suatu kebenaran tentang materi yang saya bawakan dalam kaitannya dengan iman dan liturgi suci, serta Misa Kudus maka saya sendiri akan sangat bersyukur karena membawa Saudara dalam penghayatan iman yang benar dalam persatuan yang sejati dan kekal dengan Bapa Suci sebagai Vikaris Kristus di dunia.

Misa Kudus merupakan suatu momen ketika Allah dan umatnya bertemu dan bersatu dalam suatu upacara kudus. Misa Kudus merupakan anugerah dari Allah dan bukan merupakan ciptaan manusia sehingga pada hakikatnya Misa Kudus adalah suatu bentuk yang baku dan tetap dari masa ke masa. Namun kebakuan yang dimaksud adalah berupa kebakuan makna dan harapan iman yang dikandung dalam iman. Apabila dalam suatu rentang waktu ditemukan kesalahan baik berupa tata cara Misa, tata gerak pelayan sabda atau umat, maupun liturgi maka sangat dimungkinkan diberikan suatu koreksi yang dapat mengatasi kesalahan atau kekurangan yang terdapat dalam suatu ritus Misa.
Gereja Katolik mengenal beberapa ritus Misa sejak dari masa para Rasul sampai sekarang. Dua ritus Misa Kudus yang cukup terkenal adalah Ritus Misa Usus Antiquior/Missa Forma Ekstraordinaria/Tridentine Latin Mass (TLM)/Misa Latin Tradisional dengan Misa Novus Ordo atau yang lebih akrab dikenal dengan ritus Misa yang dikeluarkan setelah Konsili Suci Vatikan II (1962-1965).
Read More …


Read More …

Credo in unum Deum
Patrem omnipoténtem,
factórem cæli et terræ,
visibílium ómnium et invisibílium.
Et in unum Dóminum Iesum Christum,
Fílium Dei Unigénitum,
et ex Patre natum ante ómnia sæcula.
Deum de Deo, lumen de lúmine, Deum verum de Deo vero,
génitum, non factum, consubstantiálem Patri:
per quem ómnia facta sunt.
Qui propter nos hómines et propter nostram salútem
descéndit de cælis.
Et incarnátus est de Spíritu Sancto
ex María Vírgine, et homo factus est.
Crucifíxus étiam pro nobis sub Póntio Piláto;
passus, et sepúltus est,
Read More …

 
Adoro te devote, latens Deitas,
Quæ sub his figuris vere latitas;
Tibi se cor meum totum subjicit,
Quia te contemplans totum deficit.
Visus, tactus, gustus in te fallitur,
Sed auditu solo tuto creditur.
Credo quidquid dixit Dei Filius;
Nil hoc verbo veritátis verius.
In cruce latebat sola Deitas,
At hic latet simul et Humanitas,
Read More …


Read More …

Servus Servorum Dei, yang berarti Abdi dari para Abdi Allah merupakan semboyan yang menjadi pegangan bagi para Bapa Suci untuk menandakan bahwa sebenarnya mereka adalah pelayan dari semua umat dan gembala Allah bahkan dengan semua otoritas yang diberikan kepadanya. Tanpa bermaksud untuk mencampuri privilese yang secara khusus hanya dimiliki oleh Paus, sudah seharusnya para putra-putri altar juga mengambil semboyan ini sebagai moto pelayanan mereka. Menjadi abdi yang sesungguhnya dari para gembala umat Allah sekaligus menjadi abdi dan pelayan serta pelindung dari Ekaristi itu sendiri. Dengan segala keistimewaan yang diberikan kepadanya oleh Gereja dengan menjadi kaum di luar hierarkis yang diberikan kesempatan untuk berada pada jarak yang terdekat dengan Sakramen Yang Maha Mulia, maka baik secara sadar maupun tidak, para putra-putri altar telah mendapatkan suatu karunia Ilahi yang hampir sama besarnya dengan para imam dan para kudus karena bersama-sama dengan mereka, para putra-putri altar menjadi pihak yang diperbolehkan berada satu tempat di lingkungan altar suci, tempat yang paling dekat dengan Allah dan paling merasakan hadirat Ilahi pertama kali sesudah konsekrasi agung terjadi.
Namun yang seringkali terjadi di lapangan, para putra-putri altar justru menjadi pihak-pihak yang mengotori kesucian lingkungan altar bahkan sampai konsekrasi dilakukan untuk mengubah substansi duniawi menjadi materi ilahi. Dengan berbagai tindakan, sikap, dan perkataan mereka selama menjalankan tugas pelayanan di altar, tidak jarang mereka bahkan menciptakan suasana tidak khidmat yang justru harus tidak boleh dilakukan oleh semua pihak yang diperkenankan untuk berada di altar suci bersama-sama dengan para imam. Tidak jarang mereka berbicara selama pelayanan, membicarakan hal-hal yang tidak perlu; melakukan tindakan-tindakan yang tidak pantas untuk dilakukan oleh orang-orang yang mengenakan jubah pelayanan liturgis. Bahkan tidak jarang pulang tindakan tersebut mereka lakukan bahkan pada saat konsekrasi terjadi. Bagi sebagian orang, memang hal ini merupakan hal biasa yang tidak memiliki arti dan dampak apapun bagi mereka, tetapi bagi kesucian Ekaristi yang Maha Agung hal ini justru merupakan suatu pelecehan yang amat serius yang bisa dikategorikan sebagai sakrilegi.
Read More …

Bertempat di Kapel Hati Kudus Yesus, Kompleks RS St. Karolus Borromeus, Suster-Suster Cinta Kasih Carolus Borromeus, telah diselenggarakan Selebrasi Agung Misa Penutupan Bulan Rosario 2011 yang dipersembahkan oleh Pastur Herman, SMM.
Misa yang diawali pada pukul 17.00 ini mengambil tema Maria, Ratu Perdamaian. Tema ini diambil mengingat semakin banyaknya orang yang menjadi korban dari adanya situasi yang tidak damai baik yang disebabkan oleh hal-hal besar misalnya perang, kondisi politik, ekonomi,sosial budaya, dan lain-lain maupun karena hal-hal kecil misalnya relasi yang tidak damai baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain.
Seturut dengan tujuan Misa yakni sebagai ucapan syukur telah berjalannya bulan Rosario 2011 dengan amat khidmat terutama di lingkungan Kapel Hati Kudus Yesus, ditandai dengan aktifnya kaum muda-mudi Katolik yang tergabung dalam berbagai unit kategorial kegiatan dalam mengisi rangkaian ibadat rosario dari hari-hari bertempat di kapel yang sama, Pastur Herman mengisi khotbahnya mengenai pentingnya berdoa rosario dan makna dari setiap bulir doa rosario itu sendiri. Rosario hendaknya bukan sekadar untaian bulir tetapi menjadi suatu identitas bagi setiap orang Katolik, misalnya dengan cara selalu dibawa ke setiap tempat bepergian. Juga ditekankan bahwa dengan berdoa Rosario, umat Katolik bukan berarti menjadikan Bunda Maria sebagai Tuhan yakni dengan menyembahnya, tetapi umat Katolik sebatas menghargai Maria sebagai Bunda Ilahi.
Misa yang dirayakan dalam tata cara perayaan hari raya ini kemudian berakhir pada sekitar pukul 19.00 dengan jumlah umat yang hadir sampai di luar kapasitas kapel.
Semoga pada masa yang akan datang, penyelenggaran Misa Kudus dapat lebih meriah lagi dan diikuti dengan umat yang jauh lebih besar.
Read More …

Selibat merupakan salah satu cara menjalani hidup yang berarti tanpa mengikat diri dalam suatu ikatan pernikahan dengan lawan jenis, yakni antara pria dengan wanita. Tindakan selibat umum dilakukan oleh berbagai pihak dan malah dianjurkan dan tidak kadang menjadi suatu keharusan dalam ajaran-ajaran kepercayaan atau agama tertentu bagi para anggotanya yang ingin mencapai suatu target tertentu. 
Dalam Gereja Katolik, selibat ditujukan kepada mereka yang ingin menyatukan diri dalam persatuan kekal dengan Kristus melalui menjadi para imam Kristus dalam berbagai ordo dan persaudaraan dengan berbagai semangat berbeda tetapi tetap berpusat pada penghayatan akan pribadi Kristus sebagai penyelamat dunia dengan cara pandang yang berbeda-beda.

Secara umum, sebelum seseorang mengikrarkan diri untuk menjadi pengantin Kristus, baik itu menjadi suster, bruder, frater, imam maka ada tiga jenis kaul yang harus diucapkan (lebih dari tiga pada beberapa ordo/kongregasi/persaudaraan tertentu, tergantung dari spiritualitas yang diemban oleh kelompok tersebut). Ketiga kaul tersebut adalah kaul ketaatan, kaul kemurnian, dan kaul kemiskinan. Kaul yang terikat erat dengan pilihan hidup untuk selibat ialah kaul kemurnian. Dengan mengikrarkan diri pada kaul kemurnian, seseorang secara sadar dan penuh hasrat mengatakan bahwa selama hidupnya ia hanya akan berpusat pada Kristus dan melepaskan segala hasrat duniawi yang melekat pada dirinya sehingga dengan demikian hanya Kristuslah yang bekerja dalam dirinya, termasuk melepaskan diri dari ikatan pernikahan dengan lawan jenis. Di antara ketiga kaul tersebut, mungkin kaul kemurnian menjadi kaul yang paling berat terutama dikarenakan kebutuhan mendasar makhluk hidup yakni kebutuhan akan hasrat biologis. Banyak hal yang harus dipikirkan untuk kemudian secara sadar mengikrarkan diri pada kaul ini, terutama jika orang tersebut berasal dari kelompok masyarakat atau suku yang masih terikat kuat dengan sistem budaya patrilineal yang menekankan pentingnya sosok laki-laki dalam suatu garis keturunan. Hal ini pula yang sering menjadi penghalang bagi seseorang apabila ia menyatakan diri kepada keluarganya hasrat untuk menjawab panggilan yang diberikan oleh Allah kepadanya. Banyak orangtua yang secara tegas menyatakan penolakan mereka terhadap keinginan ini dengan alasan sang anak merupakan anak laki-laki satu-satunya di keluarga tersebut atau mungkin dengan  alasan bahwa orangtuanya menginginkan anak tersebut untuk memilih jalan hidup lain yang dianggap oleh orangtuanya lebih cocok untuknya daripada menjalani hidup sebagai gembala Kristus. Terlepas dari segala penyebab tersebut, kini marilah kita melihat hubungan yang tercipta antara Gereja dan pilihan untuk hidup selibat.
Read More …

Sekali dalam setahun, Gereja Katolik mengkhususkan diri pada kesempatan untuk mengenang para umat beriman yang telah mendahulu untuk menghadap Bapa di surga. Pengenangan akan umat beriman ini tentu saja ditujukan kepada umat-umat beriman yang masih berada di api penyucian, sehingga belum berada dalam persatuan yang utuh dengan Bapa di surga. Api penyucian merupakan suatu kondisi tempat umat-umat beriman secara utuh pribadi menyadari bahwa walaupun mereka boleh untuk segera masuk surga, namun dengan masih adanya dosa-dosa yang melekat pada diri mereka, mereka tetap tidak pantas untuk masuk ke dalam hadirat surga, ke dalam hadirat yang sangat murni dan suci. Mereka lebih memilih dimurnikan oleh api yang sama dengan api neraka, untuk mencapai kemurnian dari dosa daripada langsung masuk ke dalam surga tetapi akan mendapat penderitaan yang sangat mendalam karena dosa yang masih mereka miliki. Walaupun memang api yang sama dengan api yang ada di dalam neraka yang memurnikan mereka, namun api ini membawa suatu kebahagiaan yang sangat besar karena mereka memiliki suatu pengharapan yang pasti bahwa kelak suatu saat, mereka pasti akan menghadap Allah Tritunggal jika mereka telah mencapai suatu kemurnian dari dosa. Hal ini berbeda dengan api yang ada di neraka, yang tentu saja tidak membawah pengharapan pasti akan berada dalam persatuan dengan Tuhan melainkan menjadi suatu penghukuman atas dosa yang telah mereka perbuat.

Perlu juga diketahui bahwa neraka sendiri bukan merupakan suatu tempat yang diberikan Tuhan sebagai hukuman kepada manusia akibat dosa-dosa yang telah mereka lakukan yang dianggap terlalu berat bahkan untuk dimurnikan dalam api penyucian sehingga mereka tidak memiliki harapan akan diterima dalam kerajaan Surga.
Dalam suatu ritual eksorsime (pengusiran setan - red), seorang imam pernah menanyakan kepada sosok iblis yang merasuki korban tentang identitas neraka sebagai ciptaan Tuhan pula. Namun sang iblis dengan tegas menolak, bahwa neraka jelas bukan ciptaan Tuhan. Karena satu-satunya hal yang tidak mungkin dilakukan oleh Tuhan ialah menciptakan neraka sebagai hukuman atas dosa manusia. Dari sini dengan tegas pula dinyatakan, bahwa sejahat-jahatnya manusia, Tuhan sendiri tidak pernah dan tidak akan pernah menciptakan suatu hukuman kepada manusia. Iblis sendiri yang telah menciptakan neraka untuk mencari pasukan-pasukan untuk pada hari terakhir nanti menyerang Kerajaan Surga (baca Kitab Wahyu). Karena memang Tuhan sejak awal telah memberikan kebebasan pada manusia untuk menetapkan pilihan dalam hidupnya, masuk ke dalam kebahagiaan abadi di surga atau tidak, tentu dengan berbagai macam rintangan yang harus dihadapi oleh setiap manusia.

Read More …


Deinde, iunctis manibus ante pectus, incipit Antiphonam:
S. Introíbo ad altáre Dei.
M. Ad Deum, qui lætíficat iuventútem meam.
Postea alternatim cum Ministris dicit sequentem
Ps. 42, 1-5.
S. Iúdica me, Deus, et discérne causam meam de gente non sancta: ab hómine iníquo et dolóso érue me.
M. Quia tu es, Deus, fortitudo mea: quare me reppulísti, et quare tristis incédo, dum afflígit me inimícus?
S. Emítte lucem tuam et veritátem tuam: ipsa me deduxérunt, et adduxérunt in montem sanctum tuum et in tabernácula tua.
M. Et introíbo ad altáre Dei: ad Deum, qui lætíficat iuventútem meam.
S. Confitébor tibi in cíthara, Deus, Deus meus: quare tristis es, ánima mea, et quare contúrbas me?
M. Spera in Deo, quóniam adhuc confitébor illi: salutáre vultus mei, et Deus meus.
S. Glória Patri, et Fílio, et Spirítui Sancto.
M. Sicut erat in princípio, et nunc, et semper: et in saecula sæculórum. Amen.
Sacerdos repetit Antiphonam:
S. Introíbo ad altáre Dei.
M. Ad Deum, qui lætíficat iuventútem meam.
Signat se, dicens:
V. Adiutórium nostrum http://www.divinumofficium.com/www/missa/cross1.gifin nómine Dómini.
R. Qui fecit coelum et terram.
Deinde iunctis manibus profunde inclinatus facit Confessionem.
Confíteor Deo omnipoténti, beátæ Maríæ semper Vírgini, beáto Michaéli Archángelo, beáto Ioánni Baptístæ, sanctis Apóstolis Petro et Paulo, ómnibus Sanctis, et vobis, fratres: quia peccávi nimis cogitatióne, verbo et opere: Percutit sibi pectus ter, dicens: mea culpa, mea culpa, mea máxima culpa. Ideo precor beátam Maríam semper Vírginem, beátum Michaélem Archángelum, beátum Ioánnem Baptístam, sanctos Apóstolos Petrum et Paulum, omnes Sanctos, et vos, fratres, orare pro me ad Dóminum, Deum nostrum.
M. Misereátur tui omnípotens Deus, et, dimíssis peccátis tuis, perdúcat te ad vitam ætérnam.
Sacerdos dicit:
S. Amen,
et erigit se. Deinde Ministri repetunt Confessionem: et ubi a Sacerdote dicebatur vobis, fratres, et vos, fratres, a Ministris dicitur tibi, pater, et te, pater.
M. Confíteor Deo omnipoténti, beátæ Maríæ semper Vírgini, beáto Michaéli Archángelo, beáto Ioánni Baptístæ, sanctis Apóstolis Petro et Paulo, ómnibus Sanctis, et tibi, pater: quia peccávi nimis cogitatióne, verbo et opere: mea culpa, mea culpa, mea máxima culpa. Ideo precor beátam Maríam semper Vírginem, beátum Michaélem Archángelum, beátum Ioánnem Baptístam, sanctos Apóstolos Petrum et Paulum, omnes Sanctos, et te, pater, orare pro me ad Dóminum, Deum nostrum.
Postea Sacerdos, iunctis manibus, facit absolutionem, dicens:)
S. Misereátur nostri vestri omnípotens Deus, et, dimíssis peccátis nostris vestris , perdúcat nos vos ad vitam ætérnam.
R. Amen.
Signat se signo crucis, dicens:
S. Indulgéntiam, http://www.divinumofficium.com/www/missa/cross1.gifabsolutionem et remissiónem peccatórum nostrórum tríbuat nobis omnípotens et miséricors Dóminus.
R. Amen.
Read More …


Pemberkatan
Dalam Misa Arwah, atau jika Benedicamus Domino diucapkan, pemberkatan ditiadakan.
Membungkuklah agak dalam dan katupkan kedua tangan pada ujung altar, ucapkan Placeat tibi, sancta Trinitas, dst (ada pada kartu altar tengah).

Pláceat tibi, sancta Trínitas, obséquium servitútis meæ: et præsta; ut sacrifícium, quod óculis tuæ majestátis indígnus óbtuli, tibi sit acceptábile, mihíque et ómnibus, pro quibus illud óbtuli, sit, te miseránte, propitiábile. Per Christum Dóminum nostrum. Amen.

Cium altar, letakkan telapak tangan ke altar seperti biasa. Berdirilah tegak dan mulai doa Benedicat vos omnipotens Deus. Ketika Anda melakukannya, angkat pandangan menuju salib, angkatlah, katupkan dan rendahkan kembali tangan Anda dan membungkuklah pada salib pada kata Deus.

Benedícat vos omnípotens Deus,

Dengan tangan terkatup di depan dada, berbaliklah ke kanan untuk menghadap umat. Letakkan tangan kiri pada dada dan buat sebuah tanda salib besar, ucapkan Pater, et Filius, ketika membuat tanda salib vertikal , dan Spiritus Sanctus ketika membuat yang horizontal.
V: Pater, et Fílius, + et Spíritus Sanctus.
R: Amen.

Berbaliklah kea rah kanan ke sisi Injil. Menghadaplah pada arah yang sama seperti Injil Pertama. (Pada Misa Cantata, Koor menyanyikan lagu penutup dan imam membaca Injil Terakhir dengan suara pelan)
Ucapkan Dominus vobiscum sambil tangan terkatup. Ketika akolit telah menjawab, letakkan tangan kiri pada altar dan buat tanda salib kecil, pertama pada altar, kemudian pada dahi Anda, bibir, kemudian dada ketika mengatakan Initium Sancti Evangelii, dst.

V: Dóminus vobíscum.
R: Et cum spíritu tuo.
V: + Initium sancti Evangélii secúndum Joánnem.
R: Glória tibi, Dómine.

Letakkan tangan pada altar dan berlututlah menghadap kartu pada kata Et Verbum caro factum est (Jika Missa dibawakan dalam kehadiran Sakramen Terberkati, sikap berlutut ini diarahkan pada Sakramen yang Terberkati)
Read More …


Kanon
TE IGITUR
TE IGITUR, clementíssime Pater, per Jesum Christum, Fílium tuum, Dóminum nostrum, súpplices rogámus, ac pétimus,

Pisahkan tangan dan letakkan di luar korporale; cium altar dan berdirilah tegak, persatukan kembali tangan di depan dada
uti accépta hábeas et benedícas,

letakkan tangan kiri di altar, dan dengan tangan kanan membuat tiga tanda salib di atas oblate

hæc + dona, hæc + múnera, hæc + sancta sacrifícia illibáta,

rentangkan tangan dan tahan di depan dada sementara menyelesaikan doa berikut :
Read More …


CREDO
Ketika memulai Syahadat Iman, rentangkan, angkat, dan katupkan kembali tangan dan rendahkan tangan pada ketinggian dada.

Menunduk pada salib pada kata Deum. Menunduk kembali pada kata Jesum Christum; berlutut setelah Descendit de caelis, dan bangkit setelah Et homo factus est; menunduk pada kata simul adoratur. Buat tanda salib pada kata Et vitam venture saeculi. Amen; katakan Et ketika menyentuh dahi, vitam ketika menyentuh dada, venture ketika menyentuh bahu kiri, dan saeculi. Amen ketika menyentuh bahu kanan. Pada Misa Cantata, imam hanya menyanyikan Credo In Unum Deum, sedangkan selanjutnya dibaca dengan low voice sementara koor menyanyikan Credo. Imam dapat menuju Sedilia dengan memberi hormat pada salib dan kemudian duduk (dapat juga menunggu ditengah Altar)

Credo in unum Deum, Patrem omnipoténtem, factórem cæli et terræ, visibílium ómnium et in
invisibílium. Et in unum Dóminum Jesum Christum, Fílium Dei unigénitum: Et ex Patre natum ante ómnia sǽcula, Deum de Deo, lumen de lúmine, Deum verum de Deo vero. Génitum, non factum, consubstantiálem Patri: per quem ómnia facta sunt. Qui propter nos hómines, et propter nostrum salútem descéndit de cælis.
Read More …


KYRIE ELEISON
Kembalilah ke tengah altar, dan dengan tangan terkatup, daraskan Kyrie bergantian dengan para akolit. Jangan memulai Kyrie sampai Anda mencapai tengah altar. (Kyrie Eleison diucapkan dengan suara yang cukup terdengar oleh server, jadi hanya diikuti oleh Imam dan Server, sementara alternatifnya, Koor dapat menyanyikan Kyrie)

V: Kýrie, eléison.
R: Kýrie, eléison.
V: Kýrie, eléison.
R: Christe, eléison.
V: Christe, eléison.
R: Christe, eléison.
V: Kýrie, eléison.
R: Kýrie, eléison.
V: Kýrie, eléison.
Read More …


MISA KATEKUMEN

Sisi Injil        kiri altar                                                                      Sisi Epistola      kanan altar

PERSIAPAN PERAYAAN EKARISTI
Ketika Anda telah sampai di altar, lepaskan biretta Anda dan berikan kepada server. Berlutut jika Sakramen Terberkati berada dalam tabernakel; jika Sakramen Terberkati tidak ada, maka menunduklah dengan dalam. Kemudian, naiklah ke altar.
Tanpa menunduk ke arah salib dan tanpa berpindah – pindah dari pusat altar, letakkan piala sedikit ke arah sisi Injil sehingga bagian depannya menghadap pada Anda dengan sedikit miring.
Read More …

LANCIANO, sekitar 700 M
Mukjizat Ekaristi LancianoLanciano adalah sebuah kota kecil di pesisir Laut Adriatic di Italia. Lanciano berarti “tombak”. Menurut tradisi, Santo Longinus, prajurit yang menikamkan tombaknya ke lambung Yesus hingga mengalir Darah dan Air (Yoh 19:34), berasal dari Lanciano. Longinus bertobat setelah peristiwa penyaliban dan di kemudian hari wafat sebagai martir demi imannya.
Pada masa terjadinya mukjizat Ekaristi ini, suatu bidaah (ajaran sesat) menyebar dalam Gereja menentang ajaran tentang Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi. Dalam hati seorang imam timbul keragu-raguan dan keragu-raguannya itu semakin lama semakin kuat. Suatu pagi, saat Konsekrasi dalam perayaan Misa, tubuhnya gemetar dan berguncang hebat. Di hadapan umat, ia menunjukkan apa yang telah terjadi.
Hosti telah berubah menjadi Daging dan anggur menjadi Darah!
Mukjizat ini terjadi hampir 1300 tahun yang silam dan berlangsung hingga kini. Sekitar tahun 1970-an dilakukan penelitian dan hasilnya membuktikan bahwa daging tersebut adalah jaringan jantung manusia dan darahnya adalah darah manusia, keduanya memiliki golongan darah AB. Darah memiliki karakteristik darah hidup dan tidak diketemukan adanya bahan pengawet atau sejenisnya, baik dalam daging maupun dalam darah. Kami merenungkan mukjizat Lanciano dengan Kitab Suci:
Read More …

Sejak Doa Rosario ditata, secara prinsip dan substansial, sebagai doa kepada Kristus dan Penghormatan Surgawi, yaitu, Bapa Kita dan Bunda Maria, doa rosario adalah doa pertama dan menjadi devosi prinsip dari orang2 yang percaya dan telah dilakukan selama berabad-abad, dari jaman para rasul dan para murid sampai sekarang. Namun baru pada tahun 1214 lah, Gereja menerima Doa Rosario dalam bentuknya yang seperti sekarang dan menggunakan metode seperti yang kita pakai sekarang. Doa ini diberikan kepada Gereja oleh St. Dominic, yang telah menerimanya dari Perawan yang Terberkati sebagai hadiah pertobatan orang Albigensian dan para pendosa lainnya.

Doa rosario adalah doa pertama dan menjadi devosi prinsip dari orang2 yang percaya dan telah dilakukan selama berabad-abad, dari jaman para rasul dan para murid sampai sekarang.
Saya akan menceritakan pada anda cerita tentang bagaimana kita menerima Doa Rosario, yang ada di dalam buku yang sangat terkenal: De Dignitate Psalterii, yang ditulis oleh Alan de la Roche yang diberkati. St. Dominic, melihat bahwa dosa orang2 Albigensian sudah sangat berat, pergi menyepi ke hutan di dekat Toulouse, dimana ia berdoa tanpa henti selama tiga hari tiga malam. Selama berdoa ia tidak melakukan apapun kecuali meratap dan melakukan pertobatan yang keras untuk meredakan amarah Tuhan. Ia memohon dengan sangat disiplin dan bersungguh-sungguh, dan akhirnya ia jatuh kedalam kondisi koma. Pada saat inilah Bunda kita menampakkan diri padanya, ditemani oleh tiga malaikat, ia berkata, “Wahai Dominic, apakah engkau tahu senjata apakah yang diinginkan oleh Trinitas yang Kudus untuk dipakai untuk memperbaharui dunia?” “Oh, Ratuku,” jawab St. Dominic, “engkau mengetahui jauh lebih banyak daripada aku, karena engkau selalu berada di dekat Putramu Yesus Kristus untuk menjadi kepala keselamatan bagi kami.”
Read More …

Homily on the 20th anniversary of the establishment of the FSSP.
Trinità dei Pellegrini Catholic Church, Rome, October 18, 2008.
“He sent them two and two before his face into every city and place whither He Himself was to come.” (Gospel)
Esteemed Superior General, Father John Berg,
Esteemed Fellow Priests,
Dear Seminarians,
Dear Faithful!
God, our Lord, has always wanted to save individual persons, to unlock for others the abundance of his treasures.    He himself selects those who should be sent into his harvest: “You have not chosen me: but I have chosen you; and have appointed you, that you should go, and should bring forth fruit; and your fruit should remain” (Alleluja verse). The chosen are sent out as workers and not as rulers over God's inheritance; not as owners, but as stewards of God’s secrets.
This choosing assumes a great trust:  the entrusted treasure is Christ himself; therefore Christ also calls his chosen ones “friends.” “I no longer call you servants, but friends, because I have told you everything which I have heard from My Father. “ The chosen are workers, servants, and friends of the bridegroom: “I hold your friends in high esteem, O God” (Introit).
Read More …

Konsili Vatikan II merupakan konsili dalam sejarah Gereja Katolik yang membawa pengaruh dan perubahan yang besar dan mendasar pada hidup Gereja Katolik. Konsili ini menghasilkan dokumen-dokumen yang mencerminkan pemikiran Gereja sebagai tanggapan atas keadaan dunia dan tindakan Gereja untuk semakin membuka diri terhadap dunia dengan segala perubahannya. Gereja Katolik tidak lagi menjadi tertutup dari dunia, tetapi menerima perubahan dunia yang selaras dengan cahaya iman yang berasal dari ajaran Kristus.
Akibat konsili ini, maka tercipta semacam kelompok-kelompok terkait Misa Kudus. Kelompok pertama disebut kelompok konservatif, sedangkan kelompok yang lainnya disebut sebagai kelompok yang liberal. Kelompok konservatif masih terbagi lagi menjadi kelompok yang semi konservatif dan ultra konservatif. Mari kita bahas satu per satu dari keseluruhan kelompok ini.
1. Kelompok semi konservatif merupakan kelompok dalam Gereja Katolik yang tercipta setelah Konsili Vatikan II. Kelompok ini berpendapat bahwa tradisi luhur Gereja harus tetap dipertahankan antara lain berupa penyelenggaraan Misa Kudus dalam bahasa Latin serta penggunaan bahasa Latin dalam kegiatan-kegiatan Gerejawi. Namun begitu, kelompok ini tetap menyadari bahwa Gereja harus senantiasa berkembang dari waktu ke waktu dan memperhatikan perkembangan dunia yang terjadi di sekelilingnya. Oleh karena itu Gereja harus membuka diri terhadap perkembangan ini dan kemudian memanfaatkannya demi perkembangan kehidupan Gereja sendiri dan untuk pewartaan Sabda Allah yang lebih mengena sesuai dengan tuntutan zaman. Salah satu ciri khas dari kelompok ini ialah mereka tetap menyelenggarakan Misa Kudus dalam Ritus Missa Forma Extraordinaria tetapi senantiasa menerima segala hasil Konsili Vatikan II.
Read More …

Without the Eucharist, Christianity would be an ideology. Now, by means of the Eucharist, Christ remains on earth in person. We do not live in His Church to preserve His thinking or His memory, but so that He may really receive our praises and the honours due to Him, from this moment on. These praises and honours testify to the love which we, mere creatures, have for Him, the King of kings. By means of the Eucharist, the Incarnation is prolonged from the crib at Bethlehem to reach us.
The Church, made up of the baptized, offers Him her homage through her liturgy. And from apostolic times onward, Europe has seen the development of a liturgical practice which we call the traditional rite. For the Latin Catholics of the West, that rite is the most accomplished form of this realism with regard to the Real Presence in the Eucharist. Let us explain.
Because the consecrated Host (after the transsubstantiation) is God, we may no longer say, do or see all that we might: God is there, and nothing may be preferred to Him. So, to take just one example, once the priest has pronounced the words of consecration over the host and over the wine in the chalice, multiple genuflexions and signs of the cross follow. These gestures translate an attitude of realism with regard to the Presence of God.
Read More …

Kalender Liturgi

Artikan situs ini (Translator)

Buku tamu


ShoutMix chat widget

Lokasi Tamu

Mari Berlangganan

GET UPDATE VIA EMAIL
Dapatkan kiriman artikel terbaru langsung ke email anda!
Diciptakan berkat anugerah Allah kepada Tarsisius Angelotti Maria. Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer

Cari Blog Ini